Part 4
Hari ini
adalah hari yang paling dibenci oleh kebanyakan anak sekolah, ya apalagi kalau
bukan hari senin. Dan pagi ini aku sudah siap untuk berangkat ke sekolah.
Sesampainya
aku di sekolah aku merasa kurang bersemangat, mungkin karena cuaca yang terasa
panas padahal masih pagi atau karena mengingat perkataan ayah kemarin.
Aku berjalan
di koridor menuju kelasku. Tiba-tiba aku menabrak seseorang hingga aku
terjatuh. Aku pun mendongak untuk melihatnya, ternyata seorang laki-laki yang
aku ketahui merupakan salah satu teman dari Wildan. Dia tidak membantuku sama
sekali bahkan dia tidak menatapku saat ini.
“Maaf” kataku
sambil berdiri.
“Hmm.”
Jawabnya.
Karena kurasa
tidak ada urusan dengannya aku pun langsung melanjutkan langkah ke kelas.
Beberapa jam
telah berlalu.
Saat ini
adalah jam istirahat kebanyakan teman-teman sekelasku pada keluar, tapi tidak
denganku aku hanya diam di dalam kelas yang sepi ini.
Aku menumpukan
wajah di tangan, pandanganku lurus tertuju kepada kaca jendela. Menampilkan
pemandangan lapangan basket. Disana terlihat Wildan yang sedang bermain basket
bersama teman-temannya.
Entah mengapa
netraku hanya terarah padanya. Rasanya sulit sekali untuk mengalihkan pandangan
selain kepadanya.
Kelak mata ini akan bersaksi, hati ini akan berkata.
Bahwa aku telah berdosa karena memandangmu terlalu lama menimbulkan perasaan
yang tidak seharusnya hadir saat ini.
Terik matahari
tidak menurunkan semangatnya untuk mengoper bola basket. Aku yang melihatnya
pun terpesona. Semakin lama melihatnya tidak membuatku bosan. Aku tidak
mengerti kenapa hal itu terjadi.
Hati ini telah bertuan
Rasa ini telah menenmukan tambatan.
Perahu ini telah menemukan dermaganya
Diri ini telah menemukan tempat untuk pulang
Aku mempunyai banyak alasan untuk mencintaimu
Bersediakah kamu menerima itu semua?
~Bersambung~





Makinn uwuw ajaa ceritanya mel
BalasHapusWow semangat amel buat kelanjutan blog nya
BalasHapus