Selasa, 19 Januari 2021

My Story


 

Happy Reading

“Cerita Raka”

Empat orang siswa tengah berjalan menyusuri lorong sekolah. Mengabaikan semua tatapan dan teriakan siswi yang ditujukan untuk mereka. Jika ditanya siapa mereka, baiklah mari kenali mereka.

Yang pertama, ada Raka Pratama. Laki-laki yang terkenal akan kenakalannya. Tawuran dan bolos sekolah sudah menjadi makanan sehari-harinya. Ia juga dikenal sebagai laki-laki tidak punya hati membuatnya menjadi sosok yang ditakuti.

Yang kedua, Reza Alvano. Orang yang paling dekat dengan Raka. Walaupun ia sama nakalnya dengan Raka, tapi ia punya segudang prestasi.

Yang ketiga, Laskar Anggara. Memiliki sifat ramah dan ceria menjadi kelebihannya diantara semua sahabatnya. Ia sering kali menjadi pencair suasana disaat situasi tegang.

Terakhir, Rangga Dewantara. Memliki wajah yang terlihat garang, namun tidak dengan hatinya. Ia dikenal playboy, semua perempuan cantik bisa dipastikan pernah menjadi pacarnya. Sekarang ia sedang menjalin hubungan dengan perempuan bernama Naya Aprilia, namun tidak ada yang tahu jika diluar sana ia juga menjalin hubungan dengan gadis lain.

Tak lama mereka sampai di kantin, keadaan di kantin sangatlah ramai. Mereka langsung menuju tempat yang biasa mereka tempati.

“Jadi mau makan apa nih?” tanya Laskar.

“Bakso aja sama es jeruk,” jawab Rangga.

“Yang lain gimana?” tanya Alesha

“Samain aja,” jawab Reza.

“Oke,” tutur Laskar.

Tidak lama kemudian makanan mereka pun tiba. Mereka makan bersama dengan suasana hening.

“Raka, kamu lagi ada masalah?” tanya Reza.

“Gak ada,” jawab Raka.

“Kamu gak bisa bohong sama kita,” tegas Laskar.

Huftt

“Ayah aku mau nikah lagi,” terang Raka.

Sontak semua yang ada dimeja tersebut terdiam.

Yang bertanya dimana Ibu Raka. Maka jawabannya adalah Ibu Raka sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Semenjak kehilangan Ibunya Raka menjadi laki-laki yang seperti sekarang. Ditambah ia tidak mendapat kasih sayanag dari Ayahnya.

“Maaf ya, kita gak bisa bantu kamu,” kata Laskar.

“Sudah, jangan terlalu dipikirkan nanti dengarin dulu penjelasan Ayah kamu,” tambah Reza. Raka hanya menanggapi dengan senyum kecil.

Tidak lama kemudian bel tanda masuk kelas berbunyi, Raka bersama sahabat-sahabatnya pun kembali ke kelas.

***

Sesampainya Raka di rumah setelah pulang dari sekolah bertepatan dengan Ayahnya  yang juga baru sampai dari pulang bekerja.

“Ayah ingin bicara dengan kamu Raka,” ujar Adrian, Ayah dari Raka.

“Nanti aja, Raka lelah,” tolak Raka.

“Ini penting tidak bisa nanti,” ungkap Adrian

“Baiklah.”

Setelah memasuki rumah, Raka bersama Ayahnya langsung duduk di ruang tamu.

“Ayah cuma ingin memberitahukan bahwa minggu depan Ayah akan menikah dengan tante Camella,” jelas Adrian.

“Tanpa persetuuanku?” sarkas Raka.

“Saya tidak peduli kamu setuju atau tidak, keputusan saya sudah bulat, lagipula ini jalan terbaik buat kita.”

Raka memilih menuju ke kamarnya tanpa mengakatakan sepatah katapun.

***

Saat ini Raka sedang berjalan di koridor semua tatapan menuju padanya yang membuatnya merasa heran. Tiba-tiba seorang siswa mendatanginya dan bertanya

“Berita di mading itu beneran Rak?”

Setelah itu Raka langsung menuju mading untuk melihat berita itu. Sesampainya di depan mading ia melihat berita bahwa perusahaan Ayahnya bangkrut karena banyak karyawan yang korupsi. Banyak siswa dan siswi yang melihat ke arahnya bahkan ada yang mencibirnya.

“SIAPA YANG MENYEBARKAN BERITA INI?” teriak Raka.

Semua yang ada di tempat itu hanya terdiam. Hingga salah satu dari mereka mendatangi Raka dan membisikan sesuatu kepadanya. Setelah itu Raka langsung menuju ke kelasnya.

“RANGGA, MAKSUD KAMU APA MENYEBARKAN BERITA ITU?” tuduh Raka ketika ia sampai di kelas.

“Berita apa?” tanya Rangga.

“JANGAN PURA-PURA GAK TAHU,” bentak Raka.

“Raka mending tenang dulu deh, jangan langsung marah-marah gak jelas,” cetus Laskar.

“Jelasin apa masalahnya ke kita,” ucap Reza.

“Rangga adalah orang yang menyebarkan berita itu,” sungut Raka.

“Apa maksud kamu berita di mading itu?” sahut Reza yang hanya dibalas anggukan oleh Raka.

“Aku gak tahu apa-apa, jangan asal tuduh,” jelas Rangga.

“Sudahlah intinya aku gak mau punya sahabat MUNAFIK sepertimu,” desis Raka.

Mulai saat itu, Raka bermusuhan dengan Rangga. Raka selalu menjauhi Rangga, padahal Rangga ingin meluruskan permasalahan mereka.

***

Hari ini adalah hari pernikahan Ayah Raka. Yang dilakukan Raka dari tadi hanya melamun, karena teringat kata Ayahnya semalam bahwa setelah ini mereka akan pindah rumah yang berarti bahwa Raka juga harus pindah sekolah.

Keesokan harinya, Raka bersama keluarganya pindah dari rumah lamanya. Raka berpikir apa di sekolah baru nanti ia akan mendapat sahabat sama seperti di sekolah lamanya.

Hari ini adalah hari pertama Raka di sekolah barunya. Ia berangkat sekolah diantar oleh Ayahnya. Ketika semua siswa dan siswi sudah pada masuk ke kelasnya, sedangkan Raka berjalan bersama seorang guru menuju kelasnya.

Raka mengetuk pintu kelas yang akan menjadi tempat barunya untuk belajar. Tak lama pintu pun terbuka menampilkan wajah ibu guru yang mengajar di kelas itu. Nama guru tersebut adalah Bu Lia.

“Assalamu’alaikum bu, say—“ Belum sempat Raka menyelesaikan ucapannya sudah dipotong oleh Bu Lia.

“Kamu Raka kan, murid baru di kelas ini?” tanya Bu Hani.

“I-iya Bu,” jawab Raka.

Bu Lia langsung mempersilakan Raka masuk ke dalam kelas itu. Kelas yang tadinya rame seketika hening.

“Anak-anak hari ini kita kedatangan murid baru, silakan perkenalkan diri kamu Raka,” titah Bu Lia.

“Assalamu’alaikum semua. Perkenalkan saya Raka Pratama, biasa dipanggil Rakaa.” Raka tersenyum tipis saat teman-teman barunya merespon dengan baik.

“Sekarang kamu boleh duduk Raka, itu disamping Darren ada kursi kosong,” tutur Bu Lia sambil menunjuk ke arah kursi kosong yang dimaksud. Raka pun mulai melangkah menuju bangku yang akan ia duduki.

“Kenalin nama aku Darren,” ucap Darren sambil menjulurkan tangannya bermaksud untuk berkenalan. Raka pun menyambut uluran tangan itu seraya tersenyum kikuk.

Setelah Nisa duduk di bangkunya, dua orang laki-laki yang duduk di depannya membalikkan badan.

“Kenalin nama aku Aryanka Saputra, kamu bisa panggil aku Aryan,” ujar Aryan.

“Dan nama aku Dirga Arkana, biasa dipanggil Dirga. Kami sahabatnya Darren. Nah sekarang kamu juga sahabat kita,” sambung Dirga.

Raka hanya menanggapi mereka dengan senyuman.

Mulai saat itu mereka bersahabat, Raka baru mengetahui jika sifat mereka kurang lebih sama dengan sahabat lamanya. Dan ternyata mereka termasuk siswa nakal. Mereka juga sering bolos bersama bahkan tawuran juga.

***

Suatu malam, Raka diajak oleh Darren dan yang lainnya ke sebuah sirkuit balap. Raka kira disana mereka hanya menonton, tetapi ternyata ia disuruh oleh para sahabatnya untuk ikut balapan. Awalnya Raka menolak. Namun, karena bujuk rayu sahabatnya akhirnya ia mengikuti keinginan mereka.

Raka pun akhirnya turun ke area balap. Raka dan seorang laki-laki yang menjadi lawannya memajukan motornya ke garis start. Seseorang maju membawa bendera

“1… 2… 3…”

“Mulai!”

Raka pun melajukan motornya dengan kencang sedangkan lawannya tertinggal di belakang. Raka terus memacu motornya, saat ia hendak tiba di garis finish ia melihat ada mobil polisi. Mau berbalik arah ia tak bisa. Raka hanya bisa pasrah dan akhirnya ia dibawa oleh polisi. Dari situ Raka sadar bahwa ia dijebak oleh sahabatnya.

Ketika di kantor polisi Raka menjelaskan semua yang ia alami, walaupun awalnya pihak polisi merasa ragu dengan apa yang Raka jelaskan. Namun, akhirnya Raka dinyatakan tidak bersalah. Setelah itu Raka pun pulang ke rumahnya.

Sesampainya Raka di rumah, ia langsung disambut oleh Orang tuanya di depan pintu. Ketika Raka ingin bersalaman dengan Ayahnya, secara tiba-tiba ia mendapat pukulan dari sang Ayah.

Bugh

Bugh

Bugh

“PERGI KAMU DARI RUMAH SAYA,” bentak Adrian.

“Apa maksud Ayah?” tanya Raka.

“KAMU SUDAH MEMPERMALUKAN SAYA, JADI KAMU HARUS ANGKAT KAKI DARI RUMAH SAYA!”

Setelah itu, Raka pun akhirnya pergi dari rumah orang tuanya. Raka bingung ia harus kemana. Akhirnya ia memutuskan untuk mendatangi sahabat lamanya, yaitu Reza dan Laskar. Sesampainya, di rumah Reza ternyata disana juga ada Laskar dan Rangga. Raka pun menjelaskan kepada sahabatnya masalah yang ia alami.

“Sebelum kita bantu kamu, kamu harus mendengar penjelasan Rangga supaya kesalahpahaman diantara kalian selesai,” tutur Reza.

“Supaya tidak ada perpecahan lagi diantara kita,” tambah Laskar.

“Baiklah,” jawab Raka.

Rangga pun menjelaskan kebenaran tentang  yang menyebarkan berita tentang Ayah Raka. Setelah itu, Raka meminta maaf kepada Rangga begitupun sebaliknya. Dan akhirnya permasalahan diantara mereka selesai.

Setelah kesalahpahaman itu selesai mereka pun mulai mencari bukti untuk memperbaiki nama baik Raka. Butuh waktu lama untuk mengumpulkan semua bukti itu. Setelah beberapa waktu semua bukti terkumpul membuat dalang dari kekacauan itu tertangkap, yaitu sahabat baru Raka, Darren, Aryan, dan Dirga. Alasan mereka melakukan itu ternyata karena mereka iri terhadap Raka.

Kemudian, Raka bersama sahabatnya mendatangi kediaman orang tua Raka. Mereka memberi bukti itu ke Ayah Raka membuat sang Ayah memaafkan Raka. Dan hubungan Raka dengan orang tuanya menjadi lebih baik.

Ini bukanlah akhir dari kisah Raka. Masih ada rintangan yang harus ia hadapi kedepannya. Raka hanya berharap jika apapun masalah yang ia hadapi nanti, ia bisa melewati semua masalahnya.

 

Terima kasih buat yang sudah membaca cerita ini ^_^

Best regards, Noor Amelia Fikriahđź’™

 

Samarinda, 19 Januari 2021.

Kamis, 23 April 2020

Sang Pangeran Hati


Part 5

Rembulan bersinar menerangi kegelapan, dikala malam telah tiba. Hembusan angin, terasa begtiu dingin hingga menususk ke pori-pori kulit.

Namun hal itu tak lantas membuatku meninggalkan tempatku berada. Nyatanya sekarang aku masih berdiri di balkon rumah.

Tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekat yang membuatku  menoleh dan kudapati bunda sedang menatapku.

“Nisa dibawah ada tamu yang menunggu kamu.”

“Siapa bun?”

“Kamu turun aja ke bawah. Jangan lupa pakai baju yang cantik ya.”

“Iya bun.”

Bunda pun meninggalkanku sendiri. Aku segera siap-siap untuk menemui tamu itu.

Sesampainya aku di ruang keluarga, disana terlihat bunda, ayah, seorang laki-laki dan perempuan yang kira-kira seumuran ayah dan bunda, dan yang terakhir ada seorang laki-laki yang menunduk.

Aku menuju ke ruang keluarga. Kemudian duduk diantara ayah dan bunda. Semua orang melihatku lalu tersenyum, kecuali laki-laki yang dari tadi hanya menunduk.

“Nisa kenalin mereka ini adalah sahabat ayah.” Jelas Ayah

Aku hanya diam. Aku sebenarnya tidak peduli hal itu. Yang menjadi pertanyaanku adalah apa alasan dan tujuan mereka kesini dan ingin bertemu denganku. Perkataan ayah selanjutnya menjawab itu semua.

“Dan mereka juga calon mertua kamu.”

Deg

“Anak laki-laki mereka yang akan ayah jodohkan dengan kamu.”

Dan laki-laki yang dari tadi menunduk pun mendongak dan benar-benar membuatku terkejut.

Dia?

Hidup ini bagaikan drama. Kita sebagai aktor dan aktrisnya dan Allah sebagai sutradaranya. Akan berakhir sad ending atau happy ending hanya Allah yang tahu.



~Bersambung~


Senin, 13 April 2020

Sang Pangeran Hati


Part 4

Hari ini adalah hari yang paling dibenci oleh kebanyakan anak sekolah, ya apalagi kalau bukan hari senin. Dan pagi ini aku sudah siap untuk berangkat ke sekolah.

Sesampainya aku di sekolah aku merasa kurang bersemangat, mungkin karena cuaca yang terasa panas padahal masih pagi atau karena mengingat perkataan ayah kemarin.

Aku berjalan di koridor menuju kelasku. Tiba-tiba aku menabrak seseorang hingga aku terjatuh. Aku pun mendongak untuk melihatnya, ternyata seorang laki-laki yang aku ketahui merupakan salah satu teman dari Wildan. Dia tidak membantuku sama sekali bahkan dia tidak menatapku saat ini.

“Maaf” kataku sambil berdiri.

“Hmm.” Jawabnya.

Karena kurasa tidak ada urusan dengannya aku pun langsung melanjutkan langkah ke kelas.

Beberapa jam telah berlalu.

Saat ini adalah jam istirahat kebanyakan teman-teman sekelasku pada keluar, tapi tidak denganku aku hanya diam di dalam kelas yang sepi ini.

Aku menumpukan wajah di tangan, pandanganku lurus tertuju kepada kaca jendela. Menampilkan pemandangan lapangan basket. Disana terlihat Wildan yang sedang bermain basket bersama teman-temannya.

Entah mengapa netraku hanya terarah padanya. Rasanya sulit sekali untuk mengalihkan pandangan selain kepadanya.

Kelak mata ini akan bersaksi, hati ini akan berkata. Bahwa aku telah berdosa karena memandangmu terlalu lama menimbulkan perasaan yang tidak seharusnya hadir saat ini.

Terik matahari tidak menurunkan semangatnya untuk mengoper bola basket. Aku yang melihatnya pun terpesona. Semakin lama melihatnya tidak membuatku bosan. Aku tidak mengerti kenapa hal itu terjadi.

Hati ini telah bertuan
Rasa ini telah menenmukan tambatan.
Perahu ini telah menemukan dermaganya
Diri ini telah menemukan tempat untuk pulang
Aku mempunyai banyak alasan untuk mencintaimu
Bersediakah kamu menerima itu semua?



~Bersambung~

Jumat, 10 April 2020

Sang Pangeran Hati


Part 3

Saat weekend tiba, biasanya kebanyakan orang akan bersantai begitupun dengan aku. Sekarang aku sedang berada di kamarku mendengarkan lagu sambil membaca novel.

Hingga ketukan pintu diikuti salam menginterupsi aktifitasku sejenak. Muncullah bundaku dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan. Ternyata bunda menyuruhku keluar karena ada yang ingin dibicarakan ayah. Apa yang ayah ingin bicarakan ya?

Aku keluar dari kamar dan mendapati ayah sedang duduk sendirian di ruang keluarga. Aku pun menghampiri ayah.

“Ada apa yah memanggilku?”

“Ayah hanya ingin memberitahumu bahwa ayah sudah menjodohkanmu dengan anak dari sahabat ayah.”

Deg

Aku merasa sangat terkejut. Tiba-tiba ayah bilang mau menjodohkanku. Dengan siapa aku dijodohkan pun tidak tahu.

“Tapi Nisa masih muda yah, dan aku ingin melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi.”

“Ini sudah keputusan ayah, Nisa. Ini demi kebaikan kamu!”

Kebaikan apa?

Bagaimana dengan perasaanku kepada Wildan?

Aku terus berusaha untuk mengelak. Tetapi ayah tidak mendengar alasanku.

Aku tidak bisa mengelak lagi. Aku pun langsung kembali ke kamar tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sesampainya di kamar aku lantas menangis.

Baru saja aku merasakan jatuh cinta, namun mengapa aku harus merasakan patah hati secepat ini  Mungkin karena aku berharap kepada selain-Nya.

Setelah lelah menangis aku pun bangkit untuk melakukan kewajiban sekaligus curhat kepada-Nya.

Ada hikmah yang bisa aku diambil dari kejadian ini, seseorang harus yakin bahwa Allah punya skenario yang tidak bisa ditebak kedepannya. Dan aku yakin bahwa Allah punya skenario yang terindah untuk hamba-Nya. 
Ya Allah rencana apa yang kau tentukan padaku kedepannya?


~ Bersambung~

Rabu, 08 April 2020

Sang Pangeran Hati


Part 2

Teriknya matahari yang menerpa kurasakan, manakala tengah duduk disalah satu bangku dipinggir lapangan. Namun aku tidak mengeluh demi melihatmu sang pujaan hati. Ya, siapa lagi kalau bukan Wildan, yang kali ini tidak sendiri namun bersama dengan teman-temannya.

Andai kamu tahu apa yang aku rasakan saat ini apakah hatimu juga akan membalas apa yang kurasakan?

Karena waktu istirahat sudah habis aku pun kembali ke kelasku sambil sesekali bersenandung. Membayangkan senyummu yang menjadi candu bagiku,  walau aku tahu bahwa senyum itu bukan hanya untukku.

Saat ini hujan turun cukup deras, aku memandangi rintik hujan yang membasahi kaca di kelasku, tempatku kini berada. Hujan kali ini terasa berbeda, entah apa yang membuatnya berubah. Dari gemercik air yang turun sampai baunya yang menguap di tanah.

Hujan…
Selalu ada lagu baru yang engkau hantarkan setiap kali jatuh ke bumi
Selalu dengan bau yang baru
Selalu rasa damai yang kurasakan setiap kali engkau turun.

Lamunanku buyar saat tak sengaja netraku melihat segerombolan laki-laki yang berjalan di koridor kelasku sambil bersenda gurau. Aku bisa melihatmu tertawa lepas. Aku berharap suatu hari nanti aku bisa menciptakan tawa itu.

Sudah hampir 1 jam aku duduk disini, akhirnya hujan pun reda. Aku pun bergegas menggendong tasku kemudian menyusuri koridor menuju gerbang menunggu jemputan untuk pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah aku disambut oleh wanita paruh baya yang kuakui sangat cantik, ya siapa lagi kalau bukan bundaku. Aku pun mengucap salam kemudan menyaliminya. Setelah itu, menuju ke kamarku.

Seusai menjalankan kewajibanku, aku pun menuju meja belajar menyiapkan buku untuk besok sekalian mengerjakan tugas. Selesai mengerjakan tugas aku menulis sesuatu di buku diary ku.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
Apakah rasa cinta ini akan berbalas?


~ Bersambung ~

Selasa, 07 April 2020

Sang Pangeran Hati



Part 1


Kau adalah bagian dari sekian banyak doa-doa yang sering ku panjatkan kepada sang pencipta.

Mencintai dalam diam memanglah sulit bukan?. Bahkan mungkin menyakitkan. Tetapi, menurutku itulah kehebatan perempuan yang selalu bisa kuat dan bertahan dalam rasa yang terkadang terasa pahit.

Cerita ini bermula pada saat kelas akhir aku duduk di bangku SMA. Namaku Anissa Putri atau biasa dipanggil Nisa. Ya, namaku memang sederhana sama seperti orangnya.

Hari ini aku menjalani sekolah seperti biasa. Sejenak mataku terhenti oleh satu orang yang berjalan beberapa meter di depanku. Seorang laki-laki yang memakai seragam dengan rapi dan sopan sekali. Ketika tepat berada di depanku dia tersenyum kepadaku dengan senyum yang mampu menggetarkan hatiku. Membuatku bertanya, apa yang terjadi padaku?

Sampai akhirnya, aku tau bahwa aku jatuh hati padanya hanya karena senyumnya. Aku selalu mencari tau siapa nama laki-laki itu. Hingga akhirnya perjuanganku berbuah hasil, ya ternyata namanya Wildan, saat itu aku merasa senang sekali.

Setelah aku tau namanya, aku selalu menitipkan namanya di setiap doa-doa yang ku panjatkan.
Itulah cara ku menitipkan cinta kepada seseorang yang ku kagumi secara diam-diam dan berharap kelak ku harap Allah menjabah doaku.

Aku hanya bisa melihatmu dari jauh, merasa bahagia hanya dengan melihat senyummu. Selalu berharap suatu hari nanti bisa berbincang denganmu tentang berbagai hal. Walau aku tau itu salah karena berharap selain kepada Allah.

Saat ini, aku hanya mencintai dalam diamku yang hanya tersimpan dalam hati dan tidak harus memiliki. Aku tidak bisa memiliki fisikmu, tapi aku selalu menitipkan doa agar Allah selalu menjagamu. Kau harus tau bahwa kau adalah bagian dari sekian banyak doa yang sering ku panjatkan kepada sang pencipta. Sebab dengan doa aku bisa menjagamu dari jauh.

Cinta merupakan anugerah terindah dari Allah, saat ini aku merasakan indahnya anugerah itu. Ya aku jatuh cinta dan selalu berharap dia juga merasakan hal yang sama.
Mencintaimu dalam doa adalah caraku mengungkapkan rasa ini dan entah sampai kapan aku terus begini.
Apakah kau akan menjadi jawaban atas doaku?



~ Bersambung~

Senin, 06 April 2020

Pengalaman Pertama Membuat Blog

Assalamu‘Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

            Disini saya akan berbagi cerita tentang pengalaman saya membuat blog. Sebenarnya ini bukan kali pertama saya membuat blog. Pertama kali saya mengetahui tentang blog adalah pada tahun 2018, karena ada tugas sekolah yang mengharuskan menggunakan web ini. Dan pada kali ini sama seperti sebelumnya, blog ini dibuat untuk tugas sekolah.

            Awalnya saya bingung dan merasa kesulitan dalam membuat blog. Namun setelah mencari tahu melalui teman dan internet ternyata tidak sulit malah menurut saya itu merupakan hal yang menyenangkan. Saya mulai mencoba membuat blog yang menarik agar minat pembacanya banyak. Saya juga menggunakan tema di blog ini semenarik mungkin agar pembaca betah membaca blog saya.

            Setelah itu, saya sering menulis hal menarik di blog saya. Mulai dari resep membuat makanan, tentang kesehatan, hingga tips melakukan sesuatu yang bermanfaat. Saya juga pernah menulis cerita sesuai imajinasi saya. Saat itu saya sangat suka menulis di blog. Karena hal itu saya jadi suka menuls.

            Seiring berjalannya waktu saya sudah mulai jarang menulis blog tidak hanya jarang bahkan tidak sama sekali. Itu semua karena berbagai kegiatan yang saya lakukan sehinggan membuat saya merasa sibuk dan malas menulis blog.


            Sekitar satu tahun saya tidak lagi menulis blog. Pada hari ini saya mendapatkan tugas lagi membuat blog. Awalnya saya bingung membuat akun blogger ini. Dan saat itu saya ingat bahwa saya memiliki akun yang sudah lama tidak digunakan. Saya mencoba membuka laman blog di gawai saya ternyata tidak ada. Kemudian saya mencoba membuka di laptop dan ternyata masih ada. Dan pada akhirnya saya bisa menggunakan laman ini dan menulis di blog lagi.